Senin, 13 November 2017


 Mengalah

Ku melintas pada satu masa, ketika ku menemukan dia. Saat itu kehadiranmu memberi arti bagi hidupku. Meskipun, bila saat ini kita sudah tak bersama lagi, ada satu yang ku rindu kehangatan cinta dalam pelukanmu...
Biarkan aku melukiskan bayangmu, karena semua mungkin akan sirna. Bagai rembulan sebelum fajar tiba, kau selalu ada walau tersimpan di relung hati terdalam..

Disuatu pagi, tepat di hari Minggu.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diriku dari istirahat malamku. Ya, hari itu aku harus pergi ke Gereja. Kebetulan aku memilih kebaktian siang, kebaktian siang dimulai pukul 09:30 WIB. 
Dengan kecepatan yang sangat kilat, akhirnya aku selesai merapikan diri pukul 09:15. Kebetulan jarak gereja dan rumahku tidak jauh, hanya menghabiskan waktu 5 menit untuk sampai gereja. 

5 menit berlalu...
Tiba di gereja. 09:20 WIB

Sesampainya di gereja, aku segera mencari bangku dibagian belakang. Ya, dibagian belakang adalah tempat terfavorit bagi kaum muda - mudi gereja. Hehehe...
Dengan penuh semangat dan syahdu aku mendengarkan khotbah seorang pendeta. Aku mendengarkan khotbah dengan tertib tanpa usikan teman sebelah kiri dan kananku. 
Jam menunjukkan pukul 11:30 Wib dan itu artinya kebaktian telah usai. Aku dan teman temanku segera bergegas antri barisan untuk menyalami Pendeta, dan para pelayan yang melayani di kebaktian siang. 
Setelah bersalam salaman aku pun dengan semangat dan penuh ceria menghampiri kawan kawanku yang sudah menunggku disekitar halaman gereja. Kebetulan setelah kebaktian siang digereja, pemuda gereja mengadakan PA (Pendalaman Alkitab) dan tepat di hari Minggu itu aku bertugas sebagai MC. 
PA dimulai pukul 13:00 Wib. Semua pemuda dikumpulkan disuatu ruangan yang tidak terlalu luas, kebetulan pemudanya yang hadir lebih dari 25 orang. 

Hmmm...
Mulailah aku beraksi sebagai MC diacara PA itu. Pada saat aku ber-MC aku merasakan ada sesuatu yang beda dari sebelumnya di PA. Kutelusuri ternyata yang beda adalah ada 3 wajah wajah baru yang hadir di PA kali ini.
Dengan penuh keceriaan diujung acara PA, aku mempersilahkan mereka untuk memperkenalkan diri. Siapa Namanya? Tinggal dimana? Kuliah atau kerja? 
Dengan rasa penasaran yang timbul didalam diriku, aku suruh mereka berdiri dan perkenalkan diri. "Oke, abang abang yang disebelah kanan boleh diperkenalkan bang. Waktu dan tempat aku persilahkan" ujarku. "Nama saya  Tristan, saya tinggal di BSD, saya disini bekerja di Tifico". "Oke, abang yang disebelahnya silahkan bang..." saut ku. "Nama Saya Haris, saya tinggal didaerah BSD, dan bekerja di Tifico. Makasih". "Nama saya Tuah, saya sama kaya mereka, tinggal di BSD, dan kerja di Tifico. Makasih". Sautku "wah hallo abang abang selamat bergabung di pemuda gereja kita, aktif - aktif ya abang abang".

Setelah selesai sesi perkenalan diri adalah pulang. PA kali ini merasa terkesan dibenakku.
Setelah PA selesai aku langsung bergeegas untuk pulang. Sesampainya dirumah, ada hal yang tak bisa aku hilangkan dari pikiranku. Aku masih memikirkan 3 kawan baru tadi, tetapi hanya satu nama yang tak bisa kuhilaangkan dari ingataanku. Ya. Seseorang yang bernama Haris. Senyumannya dan sikap pendiamnya yang membuat aku merasa greget sama dia.
 
kring...
Hpku berbunyi, dan muncul sebuah chat whatsapp..

Aku segera mengambil handphoneku dan melihat  chat di whatsapp. Berharap abang Haris yang mengechat aku.

"Hallo. Selamat malam kakak mc :)" 

"Hallo. Malam juga. Ini siapa?"

"Ini aku Haris"

Sontak jantungku berdegub sangat cepat, dan muka sumringahpun terpancar dari raut mukaku setelah membaca chat darinya. Tak menunggu lama, aku membalas pesan yang ia kirim.

"Hallo bang, ada apa nih? Hehehe" 

"Gapapa dek, aku mau chat ajaa. Ganggu ga nih?" balas bang Haris."

Aku pun segera membalas pesan singkatnya itu. Akhirnya chattingan itu pun berlanjut sampai beberapa minggu. Benih benih cinta, sayang dan rasa nyaman pun mulai aku rasakan. Entah mengapa secepat itu. Aku pun slalu bertanya tanya dalam benakku, bagaimana bisa?.
Tiba sebulan kita saling mengenal, berbagi cerita, bertukar pikiran sehingga rasa nyaman pun yang tak mau hilang. Sempat aku berfikir, apakah ini yang namanya cinta? yang datang dan pergi tanpa permisi.

24 Mei 2017. Ya. Tanggal yang indah untukku dan bang Haris. Tanggal itu adalah tanggal jadianku. Aku bersyukur sama Tuhan bisa miliki bang Haris. 
Selama perjalanan hubungan kami tidak mulus saja, banyak rintangan menerpa. Dari mulai keluargaku yang tak suka dengannya, dan beberapa teman yang kurang menyetujui dengan hubungan kami. Suka duka kami jalani selama 6 bulan. Derai air mata pun menghiasi hubungan kami.
Tapi puji Tuhan 6 bulan belakangan ini teman temanku sudah mulai memberi restu pada hubungan kami. Namun dari pihak keluargaku belum merestuinya

Sempat berfikir apa harus sudahi saja semua biar aku pun tak menyakiti hatinya, dan tak ada dendam sana sini. Untuk niat menyudahi suatu hubungan ini pun aku harus bepikir 1000x. Bagaimana tidak? Karena aku pun sudah menjadikan dia sebagai orang terpenting dihidupku dan untuk melepaskannya pun aku tak sanggup.
Aku ceritakan semuanya apa yang terjadi pada hubungan kami ke bang Haris. Hancur berkeping pada saat dia tau penyebabnya

Mengalah sempat menjadi pilihan dia untuk hubungan ini. Karena dia tak ingin membantah setiap omongan orangtuaku. Dia sangat menghargai setiap perkataan orangtuaku, adikku. Semakin berat ku rasa untuk melepaskan semuanya. Ucapannya yang membuat aku terharu adalah ketika dia berkata "Kamu turuti aja kemauan eluarga kamu ya dek. Kalau aku langgar, berarti sama saja aku tak sayang sama kamu. Mereka ingin kamu mendapatkan yang terbaik. Kamu tenang aja ya. Walaupun kita nanti berpisah, aku bakalan tetap berjuang untuk kamu dan aku berjuang untuk menjadi seperti yang mereka inginkan. Kamu jangan sedih ya, semangat kuliahnya." 
Sekejap airmataku jatuh dan ku sesalkan semua aturan orangtuaku.

Bahagiaku hilang, semangatku hilang. Bahkan, aku harus siap menjalani hari hariku tanpa dia lagi. Namun ia telah berjanji bahwa dia akan berjuang untukku meskipun kami tak sama lagi..
Perasaan cemas, sedih, tangisan mengiringi keputusan yang kami sepakati. 
Kami fikir hubungan kami ini dapat berjalan sampai kejenjang pernikahan, tapi ternyata tidak.
Kami mencoba ikhlaskan walaupun pedih tak bisa dibohongi. 
Memaafkan, menerima, ketulusan, kedewasaan dan sabar menjadi pelajaran yang saya terima selama menjalani hubungan ini.

Semoga apa  yang semua dia ucapkan dan janjikan kepadaku untuk tetap berjuang  demi masa depan, dan kebahagiaanku dapat terlaksana, dan bukan sekedar omongan sesaat. 

Bang haris. Abang akan selalu menjadi orang yang terindah untukku, terimakasih untuk pengertianmu, untuk kesabaranmu, kedewasaanmu,  dan semangatmu untuk perjuangin semuanya. Kenangan yang tlah kita ukir bersama takan bisa hilang di memoriku, dan slalu ku simpan di relung hati terdalam. 
Semoga kelak kebahagiaan berpihak kepada kita. Amin 
      


Sinta Caharina Tarigan
MID 2015 A 
1506714403